Jakarta Pemerintah terus memperkuat langkah-langkah strategis untuk menjaga ketahanan air nasional guna memastikan sektor pertanian tetap produktif di tengah musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino. Melalui sinergi antara Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pemerintah tidak hanya melakukan penanganan di wilayah terdampak kekeringan, tetapi juga memperkuat fondasi jangka panjang melalui riset dan inovasi teknologi air.
Sebagai bentuk respons terhadap kondisi tersebut, hingga akhir Juli 2026 Kementerian Pekerjaan Umum telah menangani 294 titik kekeringan di berbagai wilayah Indonesia. Penanganan itu mencakup 180 titik kekeringan di daerah irigasi yang menopang lahan pertanian serta 114 titik di kawasan permukiman yang mengalami keterbatasan pasokan air bersih.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan bahwa pemerintah kini memfokuskan penanganan pada pencarian sumber-sumber air baru, terutama air tanah, guna mendukung kebutuhan pertanian di wilayah yang mulai terdampak kekeringan.
“Yang kita kejar sekarang adalah sebanyak-banyaknya mendapatkan sumber air bawah tanah dan mengalirkannya ke sawah-sawah terdekat. Kita harus menjaga agar produktivitas petani tidak turun meskipun dalam kondisi kekeringan,” kata Dody.
Menurut Dody, optimalisasi sumber air bawah tanah menjadi langkah cepat untuk memastikan aktivitas pertanian tetap berjalan sehingga produksi pangan nasional dapat dipertahankan. Strategi tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan langkah jangka panjang melalui penguatan riset dan pengembangan teknologi air. Untuk itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan penelitian mengenai potensi sungai bawah tanah di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, sebagai tindak lanjut atas perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap penguatan ketahanan air nasional.
Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa lembaganya memprioritaskan penelitian untuk memahami karakteristik sungai bawah tanah sebagai landasan pengembangan teknologi pengelolaan sumber daya air yang lebih efektif dan berkelanjutan.
“Ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk merumuskan agenda riset kita ke depan di bidang geologi, arah riset di bidang teknologi air, yang menunjang ketahanan air kita ke depan,” tutur Arif.
Sinergi antara penanganan di lapangan dan penguatan riset menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun sistem ketahanan air yang lebih tangguh. Melalui optimalisasi sumber daya air, penguatan infrastruktur pendukung, serta pengembangan inovasi berbasis riset, pemerintah berupaya menjaga produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tantangan musim kemarau dan perubahan iklim.